Monthly Archives: May 2014

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

( Bahan 7 Perilaku Organisasi )

Herwan Parwiyanto, M.Si

( Ilmu Administrasi Negara, FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2013)

 

Merupakan komunikasi antar manusia (human communication) yg terjadi dalam konteks organisasi. Komunikasi organisasi diberi batasan sbg arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergabung satu sama lain (the flow of messages within a network of interdependent relationship). Manusia dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya membutuhkan orang lain & membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesama dalam kelompok & masyarakat.

Two way communication, komunikasi dua arah, komunikasi timbal balik, membutuhkan kerjasama yg diharapkan untuk mencapai cita-cita bersama, cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Bila sasaran komunikasi dpt diterapkan dlm suatu organisasi baik organisasi pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi perusahaan, dengan tujuan utama mempersatukan individu dalam organisasi.

3 (Tiga) Model dalam Komunikasi Organisasi :

Model Komunikasi Linear. One way communication, dalam model ini komunikator memberi suatu stimuli & komunikan melakukan respon yang diharapkan tanpa  mengadakan seleksi & interpretasi. Komunikasi bersifat monolog.

Model Komunikasi Interaksional. Sebagai kelanjutan dari model pertama, pd tahap ini sudah terjadi feedback. Komunikasi yg berlangsung bersifat dua arah & ada dialog. Tiap partisipan memiliki peran ganda, satu saat bertindak sebagai komunikator, pada saat yang lain sabagai komunikan.

Model Komunikasi Transaksional. Komunikasi  dipahami dlm konteks hubungan antara dua orang atau lebih. Pandangan ini menekankan bahwa semua perilaku adalah komunikatif. Tidak ada satupun yg tidak dapat dikomunikasikan.

Fungsi Komunikasi dalam Organisasi antara lain :

Downward Communication Function. Pemberian atau penyimpanan instruksi (job instruction). Penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job retionnale). Penyampaian informasi mengenai peraturan yang berlaku (procedures & practices). Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.

Upward Communication Function. Penyampaian informasi tentang pekerjaan atau tugas yang sudah dilaksanakan. Penyampaian informasi tentang persoalan pekerjaan atau tugas yg tidak dapat diselesaikan bawahan. Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan, serta Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya maupun pekerjaannya.

Horizontal Communication Function. Memperbaiki koordinasi tugas antar bagian organisasi. Upaya pemecahan masalah yang muncul dalam komunikasi. Saling berbagi informasi & Upaya pemecahan konflik internal. Serta membina hubungan melalui kegiatan bersama antar anggota organisasi.

Gaya Komunikasi dalam Orgainisasi.

Gaya komunikasi (communication style) didefinisikan sbg seperangkat perilaku antar pribadi yang terspesialisasi, yang digunakan dlm suatu situasi tertentu (a specialized set of interpersonal behaviors that are used in a given situation). Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku komunikasi yg dipakai untuk mendapat respon atau tanggapan tertentu dlm situasi yang tertentu pula.

The Controlling Style Communication. Gaya komunikasi bersifat mengendalikan, ditandai dengan adanya satu kehendak untuk membatasi, memaksa & mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Lebih memusatkan perhatian pada pengiriman pesan, tidak ada/tidak mengharapkan umpan balik

The Equalitarian Style Communication. Aspek penting gaya komunikasi ini adalah adanya landasan kesamaan, dan two way traffic of communication. Komunikasi dilakukan secara terbuka, mengungkapkan gagasan secara rileks, santai dan informal. Memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, efektif dalam memelihara empati & kerjasama.

The Structuring Style Communication. Memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yg harus dilaksanakan, penjadwalan tugas & pekerjaan serta struktur organisasi.

The Dynamic Style Communication. Gaya komunikasi dinamis memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action oriented).

The Relinguishing Style Communication. Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat atau gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah.

The Withdrawl Style Communication. Gaya ini tidak layak dipakai dalam komunikasi organisasi. Akibat yg muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak KOMUNIKASI. Dalam deskripsi konkret adalah, saat seseorang mengatakan : “Saya tidak ingin dilibatkan dalam persoalan ini !”. Pernyataan ini bermakna bahwa seseorang  mencoba melepas diri dari tanggung jawab, tapi juga mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari berkomunikasi dengan orang lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

( Bahan 7 Perilaku Organisasi )

Herwan Parwiyanto, M.Si

( Ilmu Administrasi Negara, FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2013)

 

Merupakan komunikasi antar manusia (human communication) yg terjadi dalam konteks organisasi. Komunikasi organisasi diberi batasan sbg arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergabung satu sama lain (the flow of messages within a network of interdependent relationship). Manusia dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya membutuhkan orang lain & membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesama dalam kelompok & masyarakat.

Two way communication, komunikasi dua arah, komunikasi timbal balik, membutuhkan kerjasama yg diharapkan untuk mencapai cita-cita bersama, cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Bila sasaran komunikasi dpt diterapkan dlm suatu organisasi baik organisasi pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi perusahaan, dengan tujuan utama mempersatukan individu dalam organisasi.

3 (Tiga) Model dalam Komunikasi Organisasi :

Model Komunikasi Linear. One way communication, dalam model ini komunikator memberi suatu stimuli & komunikan melakukan respon yang diharapkan tanpa  mengadakan seleksi & interpretasi. Komunikasi bersifat monolog.

Model Komunikasi Interaksional. Sebagai kelanjutan dari model pertama, pd tahap ini sudah terjadi feedback. Komunikasi yg berlangsung bersifat dua arah & ada dialog. Tiap partisipan memiliki peran ganda, satu saat bertindak sebagai komunikator, pada saat yang lain sabagai komunikan.

Model Komunikasi Transaksional. Komunikasi  dipahami dlm konteks hubungan antara dua orang atau lebih. Pandangan ini menekankan bahwa semua perilaku adalah komunikatif. Tidak ada satupun yg tidak dapat dikomunikasikan.

Fungsi Komunikasi dalam Organisasi antara lain :

Downward Communication Function. Pemberian atau penyimpanan instruksi (job instruction). Penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job retionnale). Penyampaian informasi mengenai peraturan yang berlaku (procedures & practices). Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.

Upward Communication Function. Penyampaian informasi tentang pekerjaan atau tugas yang sudah dilaksanakan. Penyampaian informasi tentang persoalan pekerjaan atau tugas yg tidak dapat diselesaikan bawahan. Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan, serta Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya maupun pekerjaannya.

Horizontal Communication Function. Memperbaiki koordinasi tugas antar bagian organisasi. Upaya pemecahan masalah yang muncul dalam komunikasi. Saling berbagi informasi & Upaya pemecahan konflik internal. Serta membina hubungan melalui kegiatan bersama antar anggota organisasi.

Gaya Komunikasi dalam Orgainisasi.

Gaya komunikasi (communication style) didefinisikan sbg seperangkat perilaku antar pribadi yang terspesialisasi, yang digunakan dlm suatu situasi tertentu (a specialized set of interpersonal behaviors that are used in a given situation). Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku komunikasi yg dipakai untuk mendapat respon atau tanggapan tertentu dlm situasi yang tertentu pula.

The Controlling Style Communication. Gaya komunikasi bersifat mengendalikan, ditandai dengan adanya satu kehendak untuk membatasi, memaksa & mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Lebih memusatkan perhatian pada pengiriman pesan, tidak ada/tidak mengharapkan umpan balik

The Equalitarian Style Communication. Aspek penting gaya komunikasi ini adalah adanya landasan kesamaan, dan two way traffic of communication. Komunikasi dilakukan secara terbuka, mengungkapkan gagasan secara rileks, santai dan informal. Memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, efektif dalam memelihara empati & kerjasama.

The Structuring Style Communication. Memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yg harus dilaksanakan, penjadwalan tugas & pekerjaan serta struktur organisasi.

The Dynamic Style Communication. Gaya komunikasi dinamis memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action oriented).

The Relinguishing Style Communication. Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat atau gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah.

The Withdrawl Style Communication. Gaya ini tidak layak dipakai dalam komunikasi organisasi. Akibat yg muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak KOMUNIKASI. Dalam deskripsi konkret adalah, saat seseorang mengatakan : “Saya tidak ingin dilibatkan dalam persoalan ini !”. Pernyataan ini bermakna bahwa seseorang  mencoba melepas diri dari tanggung jawab, tapi juga mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari berkomunikasi dengan orang lain. (AN/IV/bhn.7)